navigation
  • Kita selalu setuju bahwa pulang adalah kata yang tepat untuk kembali ke tempat yang paling nyaman. Misalnya, jika menuis membuat perasaan lebih tenang ya menulislah. Jika keluar rumah menemukanmu pada banyak jalan ya keluarlah. Bahkan, jika sekedar menikmati batagor di pinggir jalan membuatmu lebih hidup, ya boronglah.

    Kita adalah petualang atau mungkin selebihnya yang ingin melanglang buana, beranjak untuk menemukan banyak pengalaman. Tapi, jangan sampai mengejar fana mati-matian, tanpa menganyam pundi-pundi pelajaran. Beriringan dengan itu, waktu akan pelan-pelan menghapus ingatan. Tapi, itulah cara Tuhan agar kita dapat menerima kenyataan.

    Pulang juga tentang persoalan rindu. Bila rindu sudah menumpuk, maka pulang adalah sebuah kebutuhan~

  • Alam dan seluruh energinya
    Apa dalam ciptanya ada aku?

    Hidup ini adalah serangkaian pertemuan. Beberapa diantaranya hanya lewat sepintas, mampir sebentar, sisanya memberi kesan. Dan, diantara milyaran manusia di dunia, perjumpaan denganmu adalah ketidaksengajaan yang mendebarkan.

    Lucunya, perasaan tidak bisa dikendalikan. Saat ingin makan gorengan, tapi takut sakit tenggorokan. Akhirnya malah minum es degan. Saat merah dan biru tidak ingin menjadi ungu, maka tidak perlu disatukan. Hati sudah jatuh tak karuan, tapi logika lebih besar berperan. Ketakutan pada patah hati berkepanjangan memicu interaksi tak sejalan pikiran.

    Namun, setelah semua berjalan sebagaimana sabda alam, ternyata kau tetap mengagumkan. Bahagiamu masih menjadi satu harap yang paling lantang ku lantunkan. Diam-diam akupun merapal semoga kita jadi satu, saling menggenapkan. 

    Jika memang bisa untukku, sini mendekatlah dan tolong beri jalan. Dan, jika bukan, reda dan redamkan. Barangkali doa-doa panjangku tak cukup untuk merayu Tuhan.

  • Merayakan pertengahan tahun 2023 dengan album kedua Hindia “Lagipula Hidup Akan Berakhir”. Track “cincin” mungkin yang paling banyak menyita perhatian, sebab “janji palsu” sudah lahir duluan. Dibuka dengan cerita sepasang manusia yang kadang menggila namun tetap saling mencinta sesudahnya. 

    Jika berbicara masa depan yang penuh ketidak pastian, tak seorangpun punya tebakan. Makanya, harus terus diupayakan. Meskipun, satu per satu, hari per hari, mungkin ada yang harus direlakan, diikhlaskan, dan dimaknai sebagai bagian dari kehidupan. 

    Kemudian lagu cinta akan melebur bersama kita dengan harap hidup akan berjalan seperti ini seterusnya. Sungai meluap, kurs tak masuk logika, kemungkinan masuk penjara, aturan cinta, pada akhirnya juga akan berlalu begitu saja. Oleh karena itu, perihal esok mari kita hadapi dengan saling mencintai apa adanya.

  • Hidup adalah doa yang panjang

    Semua hal yang ada di dunia ini memiliki relevansi terhadap waktu, “kita abadi yang fana itu waktu”. Lagunya begini nadanya begitu, pengennya kaya gini tapi ya gitu. Barangkali hidup adalah doa yang panjang karena jawabannya memang ga ada yang tau.

    Walaupun tidak ngopi dan tidak banyak turun hujan di bulan Juni, ternyata setengah tahun telah terlewati. Sedikit menangis menerka gerimis, tapi semoga selanjutnya terukir manis. Beberapa kali coba memikirkan maksud takdir, apa daya takdir begitu keras kepala. Kupasrahkan saja, sebab Tuhan akan merawat dan menunjukkan jalannya.

    Kadang hati juga seperti selembar daun, terombang-ambing terserah angin akan membawanya ke mana. Belum lagi semesta suka bercanda. Kenyataan tak sesuai rencana, sudah biasa. Hanya mampu melangitkan doa-doa panjang dengan segala upaya yang bisa dicoba. Waktu hanyalah irama dan kita akan terus berjalan di atasnya.

    Semoga selalu sehat, dibahagiakan, diberi umur yang berkah nan panjang serta senantiasa dilindungi dalam penjagaan terbaik-Nya.

    22:27 | Bertepatan malam Idul Adha, semoga pengorbanan yang kita berikan di tahun ini menjadi amalan ibadah yang ikhlas serta membawa damai dan bahagia

  • Menghadiri sebuah perhelatan khidmat bertajuk “pulang kampus” yang semoga ada di tahun-tahun berikutnya. Berkumpul dan berserikat bersama sirkel mahasiswa pada zamannya. Ditutup dengan intim suara musik goyang Erika luar biasa sampai senada cinta bersemi diantara kita.

    Paginya melipir sejenak di Cihapit, makan cwie mi, telusur pasar dan berakhir ketinggalan tumbler di Seroja. Kebutuhan tersier sesekali memang harus terlaksana. Meski obrolan ngalur ngidul tak bermuara, tapi lain kali lagi ya?!

  • Ini adalah kali pertama dengar “Kepada Noor” di awal Mei setelah beberapa lagu dinyanyikan sebelumnya. Tersebab lihat insta story dan VT orang-orang beberapa hari ini pakai lagu tersebut, akhirnya coba dengar lagi lagunya. Telinga akhir-akhir ini lagi mengakrabi city pop soalnya hahaha.

    Oiya saat show malam itu, dari satu lagu ke lagu berikutnya Panji Sakti selalu menyelipkan pesan yang tersirat, semi dakwah gitu. Jadi liriknya itu “Mu” bukan “mu”, nama-Mu bukan nama mu, wajah-Mu, bukan wajah mu. Dari beberapa song list yang disuarakan saat itu, aku lebih suka “Tanpa Aku”. Selain menjadi judul lagu, judul album juga dinamai “Tanpa Aku”. “Tanpa Aku”, mungkin dimaknai bahwa sang penulis ingin terus belajar untuk bisa meniadakan ‘aku’.

    Bantu aku mencintai jalan pulang
    Demi bertemu dengan-Mu, Lumbung Keabadian
    Bantu aku merindukan-Mu
    Tanpa apa, tanpa aku, hanya
    Engkau

  • Membuka youtube dan melihat unggahan video Mei 2018 saat perjalanan ke Jogja. Entah terbuat dari apa, setahun sehabis menamatkan sarjana, Jogja menuntunku dan Dewi untuk kesana. Meski tidak direkam dengan kamera proper, saat dilihat lagi tetap membekas rasanya. Rasanya, baru tahun kemarin wisuda S1 di Sabuga, ternyata sudah 5 tahun lamanya.

    Jogja memang layak untuk disinggahi sebab punya ‘sesuatu’ didalamnya. Jogja menjadi saksi bagaimana aku akhirnya menjadi biasa pulang pergi sehari untuk tes beasiswa. Berangkat jam 11 malam sendirian supaya pagi tiba disana. Lalu, langsung pulang karena esoknya harus bekerja.

    Melalui sudut pandang seorang pendatang, Jogja memang istimewa. Keramahannya tergelar lugas di jalan-jalan pusat kota. Cukup “bawa aku jalan, jalan kaki saja menyusuri kota”, maka akan ada jawaban untuk tiap tanya yang selalu dibawa ke Jogja.

    Jogja layak dirindukan banyak pasang mata. Yang entah sedang patah-patahnya atau jatuh terbalut romansa. Atas segala hal yang membekas karena Jogja, segala kisah yang dituliskan oleh Jogja, segala rasa yang dibentuk melalui keriuhan kotanya, sudah seharusnya Jogja tetap terawat seperti seharusnya. Baik kotanya maupun perasaan yang menyelimutinya.

  • Bulan April kemarin usiaku bertambah. Tidak ada perayaan yang wah, kebetulan bertepatan malam takbiran di rumah. Hanya membeli sate ayam langganan dan dimakan bersama keluarga dengan doa semoga usia semakin berkah.  

    Seperti biasa, umi dan abi tidak pernah meminta untuk meletakkan dunia di tangannya. Ibadah yang rajin, tutur kata halus, perilaku sopan, bertanggung jawab dengan pilihan, serta mulia dan bahagia pintanya. Jauh dari kalian, anakmu ini telah dewasa, katanya. Mungkin sebentar lagi akan dicintai atau mencintai seseorang yang entah sudah/belum pernah ia jumpa sebelumnya.

    Menyimak fase beranjak dewasa ternyata tak semudah yang kita bayangkan saat remaja. Berbaring, tersentak, lalu tertawa. Tertawa dengan air mata karena mengingat bodohnya kita menjalani dunia. Bersyukurnya, kita masih saja berusaha. Walaupun tidak selalu berlari, kadang berjalan, kadang merangkak, kadang berhenti sejenak pun tak mengapa.

    Fase beranjak dewasa yang kita pikirkan semasa kecil nyatanya sangat jauh berbeda. Setiap yang kita inginkan ada resikonya, ada konsekuensinya, ada lelahnya. Jadi, selamat beranjak dewasa dan menuai memori untuk dikenang. Pantang pulang sebelum menang.

  • Album “Mantra Mantra” hadir dengan lagu yang menguras emoji jiwa dan raga, sedangkan “Generation Y” hadir dengan lirik ringan meski format serupa “Mantra Mantra”. Jika dibandingkan Ekspektasi maupun Terlalu Lama Sendiri, Mercusuar adalah lagu cinta yang dikemas tanpa kesedihan didalamnya. 

    Seperti judulnya, mercusuar merupakan analogi dari ujung tempat berlabuh bagi kapal yang sudah sekian lama terombang-ambing di lautan. Layaknya pencarian akan berujung penemuan, sejauh manapun kapal berlayar ia tetap mencari pelabuhan. Kapal yang bersauh itu akan menemukan tempat pulang setelah panjang perjalanan. Menepikan kapal dan menjatuhkan jangkar untuk menandai bahwa ia telah tiba di tujuan.

    Kapalku telah bersauh
    Aku tak ingin jauh
    Padamu lah aku akan berlabuh

    Kemudian, peranan hati akan meluruh logika, membangun emosi, dan menuntun langkah layaknya cahaya. Menerangi yang gelap, mendekap agar hangat, mengejar supaya tak buyar, sebab cinta harus dirawat dengan sebenar-benarnya.

  • Semua lagu di album “monokrom” aku suka, tapi “cahaya” adalah yang paling utama. Sepertinya aku juga pernah menuliskan penggalan liriknya di postingan lama. Bagian yang kusuka adalah:

    “Ratusan hari ku mengenalmu, ratusan alasan kamu berharga. Ratusan hari ku bersamamu, ratusan alasan kamu cahaya”

    Lagu yang sangat tulus, dibawakan dengan sangat halus. Seolah ingin mengatakan bahwa “di tengah keterbatasan kita sebagai manusia, ada ratusan alasan bahwa kita berharga” dan di “tengah gelapnya jalan yang harus kita lalui, selalu yakin akan terang jalannya”.

    Maka, kupersembahkan lagu Cahaya ini untuk diri sendiri, sebagai pengingat bahwa dan semoga senantiasa terang jalan selamanya. Karena hidup tidak semuanya sesuai rencana, maka saat kegagalan melanda, mungkin harus kembali mencoba atau beralih pada planning kedua/ketiga bahkan kelima. Dan, apa yang belum diterima, barangkali memang belum waktunya.

  • Dari tahun ke tahun ada saja yang mengatakan jika lebaran semakin lama semakin kehilangan euforianya. Engga tau kenapa, mungkin yang sepuh semakin berkurang jumlahnya, mungkin ga seakrab sebelumnya, atau mungkin kita yang semakin menua.

    Alhamdulillah, lebaran kemarin tidak jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya, masih sama sebagaimana mestinya. Segala energinya dan kehangatannya.

    Tim bukan sage, tapi oren, kalo ga oren ga keren, chuaaksss 😌

    Bajunya lebih tua dari usia, punya umi sewaktu muda✨

  • Beberapa saat lalu ditanya sama adek “mbak, sekarang lagi suka dengerin apa?” Hmmm, setelah dipikir-pikir, selera musikku emang mundur. Padahal dulu berkhayal kalau semakin bertambah usia akan tetap mendengarkan lagu hits pada zamannya. Nyatanya, malah semakin susah menyukai lagu baru. Atau bisa juga faktor kesibukan sehingga tidak sempat ngulik lagu diluar selera.

    Yaah, apapun itu, ternyata ini musisi-musisi yang menemani selama 6 bulan terakhir. Jika dilihat memang musisi yang pernah menemani masa remaja masih akan tetap akrab di telinga. Bisa jadi, 6 bulan kedepan tidak akan sama, tapi kurasa tidak jauh berbeda.

    Meski kata Cholil Mahmud dan Efek Rumah kaca ‘Pasar bisa diciptakan’ tapi selera tidak bisa dipatahkan hahaha

    Selamat mendengarkan~

    image
  • Jika kita memandang hidup ini sebagai kompetisi, maka perasaan “tertinggal” akan terus menerus mendominasi. Sebab kanan kiri akan selalu tampak berkilau dan menarik hati.
Gapapa kalau kita tampak biasa aja, selama niat kita baik, kita berdoa dan...
  • Jika kita memandang hidup ini sebagai kompetisi, maka perasaan “tertinggal” akan terus menerus mendominasi. Sebab kanan kiri akan selalu tampak berkilau dan menarik hati.

    Gapapa kalau kita tampak biasa aja, selama niat kita baik, kita berdoa dan berusaha, maka hati kita akan merasa penuh dan bahagia. Bukan kah hidup hanya sekali dan mengapa tidak kita rayakan dengan sebaik-baiknya? dengan rasa syukur seluas-luasnya~

  • Untuk melengkapi postingan sebelumnya maka tak lengkap jika tidak mendengarkan lagu yang dirilis tahun ini oleh Batas Senja. 

    Bertukar cerita
    Hingga lelap mata
    Lalu datang pagi, kau memasak, ku bekerja

    Semoga kau dan aku, kelak berlindung dibawah satu atap. Di rumah tempat kita akan menetap. Saling menaruh harap agar mengubah yang ganjil menjadi genap. 

    Pagi hari, kita duduk di teras rumah sambil mendegarkan lagu favorit kita. Kemudian, kamu mencicipi masakan yang baru kupelajari sebelum bekerja.

    Malam tiba, kita bercengkerama di ruang keluarga. Bertukar cerita sambil menimang buah hati kita. Saling memeluk saat dunia sedang jahat-jahatnya. Dan, mari beritahu semesta bahwa kita sangat bahagia.

  • Lagi dan lagi, ga bosen-bosen nulis lagunya Sal Priadi. Lagu ini juga masuk dalam album ‘berhati’. Bayangin dengerin lagu ini di teras rumah, setelah mandi air hangat sepulang kerja. Aku minum teh kesukaanku dan kamu minum kopi favoritmu. 

    Aku jadi kaptennya, kupegang kendalinya
    Kau perhatikan petanya

    Katanya kamu yang jadi kapten-nya, aku yang pegang peta-nya. Kalau ada ombak yang besar, akan kuarahkan sebaiknya kemana. Sebab akulah yang perhatikan petanya. Kamu yang pegang kemudinya. Kita akan menjadi duo tangguh karena doa dan harapan menyertai kapal kita. 

    Tapi, jika nanti aku salah baca peta, kuharap kapten tak keberatan untuk berpindah arah. Mudah-mudahan kita juga tak pernah gentar menghadapi ombak-ombak yang membuat kapal goyah. Sekarang kita siapkan dulu bahan bakarnya sebelum mengarungi samudera yang indah.

  • 1 2 3 4 5
    &. lilac theme by seyche